Breaking News

"Kembaran Berangkat Sekolah, Hasanuddin di Aceh Timur Berjuang di Ranjang Sakit."

*ACEH TIMUR, Laporan:                          b.      http://SergapEkspres.com* 

Riuh tawa anak-anak menyambut tahun ajaran baru menggema di PAUD. Di Dusun Lingkar Alam, Desa Rambong Lop, Kecamatan Madat, Akbaruddin, 5 tahun, tampak gagah dengan seragam baru. Ia bersiap menjemput masa depan bersama teman-temannya.

Namun tak jauh dari sana, di rumah sederhana, suasana justru senyap. Air mata Mawarni pecah di pelukannya. Hasanuddin, saudara kembar Akbaruddin, hanya bisa duduk lemah. Tubuh mungilnya tiba-tiba menegang kaku, matanya kosong menembus dinding.

Sepasang anak kembar, lahir dari rahim yang sama, kini berjalan di dua takdir berbeda. Saat Akbaruddin belajar memegang pensil, Hasanuddin harus bertaruh nyawa melawan penyakit yang merenggut masa kecilnya.

 *Awal Mula: Banjir yang Mengubah Segalanya*
Kehidupan Hasanuddin berubah sejak akhir 2025. Banjir besar yang melanda Aceh Timur menjadi awal mimpi buruk.

Hampir 1,5 tahun, bocah ini didera kejang hingga 10-20 kali sehari. 
"Setiap kali kejang, tubuhnya kaku, matanya melirik ke atas, lalu langsung lemas," ujar Mawarni dengan suara bergetar, Sabtu (18/7/2026).

Penyakit itu perlahan merenggut segalanya. Penglihatan Hasanuddin mengabur. Kata-kata yang dulu ia ucapkan kini hilang. Ia pun tak lagi mampu duduk tegak atau berjalan. Bermain bersama kembarannya pun jadi hal yang mustahil.

Hasil pemeriksaan di RSUD Zubir Mahmud Idi Rayeuk mendiagnosis Hasanuddin menderita epilepsi dengan komplikasi gangguan saraf dan kejiwaan. Dokter merekomendasikan rujukan segera ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh untuk penanganan intensif.

*Tertahan Tembok Kemiskinan*
Surat rujukan sudah ada di tangan. Tapi langkah mereka terhenti. Biaya ke Banda Aceh, ongkos, dan kebutuhan selama berobat terlalu besar bagi keluarga ini.

Ujian semakin berat. Ayahnya, Munawir Saputra, tulang punggung keluarga sebagai buruh bangunan, kini terbaring sakit akibat pembengkakan jantung dan paru-paru selama dua bulan terakhir.

"Kami sudah jual apa yang bisa dijual. Pinjam ke saudara juga sudah. Tapi untuk berobat ke Banda Aceh, kami benar-benar tidak sanggup," bisik Mawarni sambil menyeka air mata.

*Doa Seorang Ibu*
Melihat Akbaruddin berangkat sekolah sendirian adalah luka terdalam bagi Mawarni dan Munawir. Seharusnya ada dua pasang sepatu, dua tas, dan dua tawa di pagi hari. Kini yang ada hanya doa di sela napas berat Hasanuddin.

Di tengah pasrah, harapan mereka belum padam.
"Kami hanya ingin anak kami selamat, bisa sembuh, bisa sekolah dan tumbuh seperti anak-anak lainnya," ucap Mawarni.

Kisah Hasanuddin adalah potret perjuangan sebuah keluarga di pelosok Aceh Timur. Di antara keterbatasan, mereka terus mengetuk pintu langit dan hati para dermawan. Mimpinya sederhana: suatu hari Hasanuddin bisa kembali menggandeng tangan kembarannya, berjalan beriringan ke sekolah.
*Tim Kaper MSE-c, Aceh Timur - Zal*


Tidak ada komentar