"PPWI Soroti Ledakan Emosi Hotman Paris : Cerminan Tekanan Dan Degradasi Mental."
Laporan http://SergapEkspres.com*
– Sikap seorang pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, saat melontarkan makian kepada awak media dalam sebuah konferensi pers beberapa waktu lalu, menuai sorotan.
Pernyataan “Kau punya otak enggak?” yang disampaikan kepada jurnalis terkait keterlibatannya dalam pembelaan hukum terhadap seorang pejabat, dinilai sebagai bentuk anomali perilaku yang memicu keprihatinan publik.
*PPWI: Itu Indikasi Tekanan Psikologis*
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI), Wilson Lalengke, menilai ucapan itu sebagai cerminan tekanan yang sedang dihadapi Hotman Paris.
"Gaya bicara seperti itu sebetulnya indikasi kuat kalau dia sedang mengalami degradasi mental. Menunjukkan jati diri seseorang yang sedang tertekan karena berbagai persoalan," ujar Wilson kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Wilson yang juga alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu menegaskan, kemewahan materi seperti harta, mobil, dan perhiasan bukan menjadi ukuran kekayaan hakiki seseorang.
Menurutnya, ketika seseorang terjebak mengejar materi secara berlebihan, hal itu justru bisa menjadi cerminan "kemiskinan jiwa" karena merasa terus kekurangan.
"Lihat para koruptor miliaran rupiah. Fasilitas negara sudah lengkap, tapi karena mentalnya merasa kurang, mereka tetap menghalalkan segala cara. Kondisi psikologis seperti itu tampaknya juga sedang menimpa Hotman Paris," tegasnya
*Dikaitkan dengan Pembelaan Kasus Jampidsus*
Wilson menganalisis perubahan emosi Hotman tidak terlepas dari tekanan publik. Saat ini, Hotman Paris menjadi sorotan karena keputusannya menjadi kuasa hukum Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, yang tengah terseret isu kasus korupsi besar.
"Dampaknya terlihat pada kondisi psikologisnya. Jiwanya terganggu, pola pikirnya kacau, dan bicaranya tidak terkontrol. Umpatan kepada wartawan itu adalah bentuk pertahanan diri yang rapuh dari seseorang yang argumennya sudah tidak kuat," tambahnya.
Wilson juga mengutip pandangan filsuf Jean-Paul Sartre tentang _Bad Faith_ dan Seneca tentang hakikat kemiskinan untuk menggambarkan fenomena ini. Menurutnya, ketika seseorang mengorbankan nilai demi kepentingan materi dan kekuasaan, integritas moralnya bisa runtuh.
*Pesan untuk Wartawan*
Di akhir pernyataannya, Wilson mengimbau para jurnalis agar tidak berkecil hati atas perlakuan tersebut.
“Bagi rekan-rekan wartawan, anggap saja itu pengakuan dari orang yang frustrasi karena berhadapan dengan pertanyaan kritis. Wartawan justru menang secara moral karena mewakili keresahan publik,” pungkasnya.*(TIM Redaksi)*
Tidak ada komentar