*PPWI Luruskan Makna "Londo Ireng" : Bukan Untuk Pers dan LSM,Tapi Penguasa Penindas Rakyat*.(28/7/2026).
*JAKARTA,
Laporan http://SergapEkspres.com*
– Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke mengkritisi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai “Londo Ireng”. Ia menilai penggunaan istilah tersebut tidak tepat dan berpotensi menimbulkan salah tafsir di masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Wilson dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/7/2026).
*Makna Historis "Londo Ireng"*
Menurut Wilson, secara historis istilah “Londo Ireng” merujuk pada kelompok pribumi yang menggunakan kekuasaan untuk menindas bangsanya sendiri. Makna itu, katanya, berbeda dengan peran jurnalis dan LSM yang selama ini menjalankan fungsi kontrol sosial dalam sistem demokrasi.
Ia mencontohkan Presiden pertama RI Soekarno pernah menggunakan istilah “Londo Ireng” untuk menggambarkan penguasa yang bertindak layaknya penjajah terhadap rakyatnya sendiri.
“Jurnalis dan LSM seharusnya dipandang sebagai bagian dari masyarakat sipil yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Pelabelan sebagai ‘Londo Ireng’ berpotensi mengaburkan makna sejarah sekaligus mereduksi peran pers dan organisasi masyarakat sipil dalam demokrasi,” ujar Wilson.
*Lebih Tepat untuk Penguasa yang Menyalahgunakan Wewenang*
Wilson juga mengaitkan pandangannya dengan pemikiran filsuf Jean-Jacques Rousseau tentang relasi penguasa dan rakyat, serta Immanuel Kant tentang kewajiban moral seorang pemimpin.
Ia menegaskan, istilah “Londo Ireng” lebih tepat ditujukan kepada penguasa yang menyalahgunakan kewenangan dan bertindak merugikan kepentingan rakyat.
Pernyataan tersebut merupakan opini pribadi Wilson Lalengke sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulisnya.
*(Adm/Tim Redaksi Pewarta)*
*(Stev-Z - Kaper MSE-c)*
Tidak ada komentar